Potensi Daerah dan Sekolah
| Gagasan |
(Inspirasi Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal)
Probolinggo terkenal sebagai daerah mangga dan anggur. Sebutan kota Bayuangga itu sendiri artinya angin, anggur dan mangga. Namun kini nyaris hanya kenangan dan cerita. Kecuali anginnya, keberadaan anggur dan mangga yang berkualitas semakin langka. Di beritakan, bahkan mangga dan anggur semakin terjepit oleh produksi dari luar daerah dan luar negeri (Bromo Pos, Edisi 2/2008)
Mangga dan anggur adalah sebagian dari potensi daerah/kotamadya Probolinggo. Kalau menyebut daerah asal Probolinggo, bukan hanya dihubungkan dengan mangga dan anggur, melainkan juga sebagai kota transit, kota industri, penghasil perikanan laut, tanjung tembaga, panorama bromo, tradisi kasada, wisata arum jeram, madakaripura, dan deretan potensi lainnya.
Sayangnya generasi penerus dari tahun ke tahun semakin tidak menyadari tentang potensi keunggulan lokal daerahnya sendiri. Hal ini terjadi karena proses pewarisan tidak berlangsung secara sistematis, berkesinambungan dan sinergis dalam semua program pembangunan. Bahkan dalam satuan pendidikan, belum umum ditemukan muatan lokal mata pelajaran “potensi keunggulan daerah”.
Padahal potensi daerah merupakan aset yang dimiliki oleh satu daerah tertentu yang dapat memberi nilai kemanfaatan dan kemudahan bagi daerah itu sendiri. Daerah memiliki ciri khas kedaerahan. Ciri khas kedaerahan adalah suatu bentuk kegiatan atau produk yang hanya terdapat pada satu daerah atau lokal dan tidak terdapat pada daerah lain. Hal ini dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan daerah sendiri. Yakni segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat.
Pertanyaan yang menarik didiskusikan adalah bagaimana satuan pendidikan (sekolah) dapat berperan mengembangkan potensi daerah yang menjadi keunggulan lokal daerah? Apakah peserta didik memahami dan kelak mampu mengeksplorasi keunggulan lokal didaerahnya sendiri? Dapatkah hal ini menjadi alternatif peluang usaha bagi peserta didik yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi?
Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
Persoalan besar bangsa ini ini adalah pengangguran. Penggangguran di Indonesia telah mencapai 40 persen. Bahkan dari tahun ke tahun pengangguran terdidik semakin bertambah. Seakan sekolah hanya berfungsi sebagai tempat penundaan pengangguran.
Disisi lain penghargaan tentang keragaman potensi kecerdasan, minat dan bakat peserta didik kurang mendapat perhatian. Peserta didik kurang mendapat kesempatan untuk berkembang menjadi dirinya sendiri. Nyaris sekolah menjadi “penjara” yang efektif guna memasung beragam potensi dan kreativitas peserta didik.
Perkembangan lebih jauh yang membuat miris adalah kenakalan dan kriminalitas yang melibatkan pelajar. Tawuran, minum-minuman dan norkoba meningkat. Pelajar bukan saja pengguna narkoba melainkan juga pengedar. Bahkan baru-baru ini di Probolinggo heboh dengan berita pelajar yang terlibat sebagai ”aktor dan artis” vedeo porno. Ini pertanda “rapot merah” bagi dunia pendidikan. Ada apa dengan sekolah?
Sekolah ditengarai belum menunaikan tugas dengan baik sebagaimana tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Oleh karena itu, perlu penemuan ”jati diri” sekolah, dengan mengangkat dan mengaktualkan kembali keunggulan lokal dalam kurikulum pembelajarannya. Pertimbangan ini didasari bahwa sekolah telah semakin jauh dari realitas, kehilangan relevansi dan kontekstualnya dengan daerah sekitar.
Pengembangan kurikulum berdasarkan keunggulan potensi daerah sendiri dijamin dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Disebutkan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
Dipertegas lagi melalui Permendiknas No. 19 tahun 2005. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai satuan pendidikan, atau potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
Persoalannya adalah bagaimana pemerintah daerah/kotamadya memfasilitasi sekolah yang mengaktualkan potensi daerah dalam kurikulum pendidikannya?
Penyelenggaraaan pendidikan sesuai dengan potensi daerah dan sekolah kini merupakan keharusan. Potensi ini dapat dikembangkan dalam kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah yang dalam sosialisasinya disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) perlu memiliki basis keunggulan lokal.
Kurikulum yang disusun berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP), seperti yang terdapat dalam Standar Isi (SI) merupakan model kurikulum yang disusun secara terpusat. Tidak mungkin dapat mencakup semua muatan lokal. Oleh karena itu, inisiatif dan sikap proaktif dari pemerintah daerah/kotamadya untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat melalui penyelenggaraan dan pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL).
Beberapa daerah/kotamadya mulai tergugah untuk mengkaji, memfasilitasi dan mengimplementasikan inovasi kurikulum yang menampilkan keunggulan potensi daerah dan sekolah. Munculah berbagai PBKL, seperti PBKL Kelautan, PBKL Pelestarian Lingkungan Hidup, PBKL Keagamaan, PBKL Multikultural, PBKL Agribisnis, PBKL Kewirausahaan, PBKL Kepariwisataan, PBKL information of communication technology (ICT) dan berbagai macam basis pendidikan sesuai dengan potensi daerah dan sekolah.
Salah satu contoh, SMA Negeri 4 kota Probolinggo dan SMA Nurul Jadid kini berhasil mengembangkan PBKL Kelautan. Bahkan lebih jauh SMA Negeri 4 kota Probolinggo mengembangkan juga PBKL Kelestarian Lingkungan Hidup.
PBKL Kelautan yang dikembangkan dalam jangka panjang dapat menginspirasi siswa untuk berwiraswasta dalam bidang kelautan atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dalam bidang kelautan. Negara Indonesia yang kaya akan potensi laut, pada masa lalu disebut sebagai negara maritim, namun sampai kini memiliki sumber daya manusia yang lemah dalam bidang kelautan.
Sedangkan potensi daerah yang lain perlu juga dikembangkan oleh satuan pendidikan sejenis. Seperti pengembangan PBKL Agribisnis yang dapat mengangkat salah satu potensi pertanian mangga dan anggur. Mangga dan anggur pada dasarnya lebih jauh bisa dikembangkan menjadi produk yang bernilai lebih. Sehingga potensi ini kelak pada dapat berkembang sebagai produk keunggulan Probolinggo.
Disisi lain, pengenalan dan pengembangan lingkungan melalui pendidikan diarahkan untuk menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia dan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik. Lebih jauh PBKL perlu diperluas pada orientasi peningkatan kesejahteraan rakyat. Sehingga peserta didik –bukan saja– lebih mengakrabkan diri dengan lingkungan terdekatnya tetapi juga memupuk jiwa kewirausahaan. Kewirausahaan adalah sebuah lifeskill yang kurang di sentuh dalam satuan pendidikan.
Dengan demikian, perwujudan kurikulum (KTSP) pada satuan pendidikan dapat memiliki relevansi terhadap kebutuhan lokal, memiliki kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, sosial budaya masyarakat, kebutuhan dan potensi sekolah dan perserta didik. Peserta didik memiliki kesibukan sesuai minat dan potensinya. Kesibukan yang dapat membawa manfaat bagi masa depannya.
Betapa indah apabila daerah/kotamadya Probolinggo ini, masing-masing satuan pendidikan dapat mengembangan PBKL yang berbeda, sesuai dengan potensi sekolah, sekaligus menjadi bekal keterampilan siswa. PBKL ini merupakan keunggulan komparatif antar satuan pendidikan.
***
Komentar:
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Lainnya ...
- SISTEM PEMBELAJARAN ICT DI SMA NURUL JADID
- PROGRAM KELAS UNGGULAN IPA
- MERETAS JALAN KE NEGERI TIRAI BAMBU
- TALK SHOW & SHARING
- BAWA PULANG 2 TROPHY DI OSN
- SMANJ@ TUNJUKKAN TARINGNYA DI OSSPEN’12
- TINGKATKAN KEDISIPLINAN MELALUI APEL DOA
- PRAKTEK PHL (PENGOLAHAN HASIL LAUT) KELAS X.11
- LEPAS PISAH KELAS AKHIR SMANJ@ WILAYAH AZZAINIYAH ‘11
- CLASS MEETING 2012
