MAHALNYA HARGA KEPEDULIAN
| Gagasan |
Seorang perempuan penderita gangguaan jiwa berbusana tinggal separo dengan asyiknya berjoget-joget dan berlarian di depan pertokoan kota jember. pemandangan ini jelas-jelas membuat orang yang melihatnya merasa agak risih, apalagi ketika orang-orang melihatnya hanya memakai baju atas tanpa secarik kain yang dapat menutup bagian bawahnya. beberapa meter dari orang gila itu, berdiri anak-anak muda lengkap dengan seragam khas salah satu sekolah negeri tampak terbelalak ketika melihat dia dengan asyiknya menyanyi sambil menari begitu riangnya.
Pemandangan seperti diatas mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. sebuah realita kehidupan yang ada di negara indonesia kita tercinta. sebagian besar penderita gangguan jiwa tidak mendapatkan hak yang layak sebagai manusia. banyak dari mereka yang terpaksa hidup lepas di jalanan, di depan pertokoan, di kolong-kolong jembatan dan di tempat-tempat yang tidak layak dihuni oleh manusia. tapi , ada sebagian dari mereka yang masih bisa hidup mewah di rumah-rumah sakit jiwa karena masih ada keluarga yang mau berusaha menyembuhkan dengan biaya sendiri.
Rasa kepedulian kita kepada orang yang sudah dicap gila seolah-olah telah tiada. banyak dari kita mungkin sudah menganggap orang gila yang berkeliaran di jalanan itu bukan orang lagi. dengan cueknya kita membiarkan mereka mengais-ngais sampah untuk mencari makanan busuk penggganjal perut yang mungkin kucing saja tidak mau memakannya. kita bisa berfikir bagaimana seumpamanya diri kita yang mengalami gangguan jiwa seperti itu? bertelanjang sambil mencari makanan di tempat sampah di hadapan banyak orang, tidak mau bukan?
Sebagai sesama manusia hendaknya kita mengasihani dan memperhatikan mereka. mereka sebenarnya tidak ingin dengan apa yang mereka sandang. banyak penanganan orang yang mengidap gangguan jiwa di masyarakat yang menyedihkan. sebagai contoh, masyarakat melakukan pemasungan, mengurung dan yang lebih parah sampai ada yang di buang kerena mereka menganggab aib orang yang mempunyai gangguan jiwa.
Pemerintah di negara kita juga seperti menutup mata untuk menghadapi masalah ini. seharusnya orang-orang seperti mereka itu harus diobati dan di sembuhkan bukan malah dikucilkan. minimnya jumlah rumah sakit jiwa dan staf-staf yang berkaitan seperti dokter jiwa juga mempengaruhi banyaknya jumlah penderita. banyaknya rumah sakit jiwa sangat dibutuhkan sekali mengingat jumlah penderita/penyandang di masyarakat sudah sangat banyak. kurang berpihaknya pemerintah terhadap pelayanan kejiwaan juga tercermin dari rendahnya anggaran yang diperuntukkan yaitu hanya mengalokasikan anggaran di bawah 1% untuk penyakit jiwa atau lebih di kenal “mental health” dari total anggaran kesehatan di indonesia. jika dibandingkan dengan thailand yang mengalokasikan dana untuk penyakit jiwa sebesar 3%, australia 8%, dan negara maju di atas 10%, persentase anggaran kesehatan jiwa di indonesia sangat kecil, bahkan yang terkecil di asia.
Kejadian pada awal tulisan, berbicara penderita yang kehilangan hak-hak kehidupan manusia mereka. penderita mengalami stigmatisasi, pengucilan, deskriminasi dan lain-lain karena penyimpanagan perilaku yang tak dimengreti kebanyakan masyarakat. kejadian yang begitu dramastis pernah terjadi di kabupaten banyuangi beberapa tahun yang lalu. beberapa penderita gangguan jiwa dibunuh dengan tuduhan menjadi dukun santet dan pembunuhan terhadap mereka berlalu begitu saja atak ada yang berteriak atau menuntut seakan akan nyawa mereka tak berarti sama sekali. rasa kepedukian masyarakat kepada mereka harus timbul karena mereka juga manusia butuh makan dan juga minum untuk itu pengetahuan masyarakat harus ditingkatkan dan didorong untuk menerima mereka yang menderita. kampanye anti stigma dan edukasi public harus digalakkan pemerintah juga harus melirik pada dan melakukan kegiatan yang mengatasi masalah ini.
Ganguan jiwa harus cepat diperbaiki. dengan cara apa saja. dan satu lagi yang amat penting pemerintah jangan hanya menperbaiki masalah ekonomi bangsa saja, perbaikan terhadap moral bangsa yang sal;ah satunya masalah penderita ganggua jiwa juga perlu diperhatikan, mengingat mereka yang juga insan yang ingin menerima hidup di indonesia secara mausiawi, semoga cepat teratasi.
Komentar:
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Lainnya ...
- SISTEM PEMBELAJARAN ICT DI SMA NURUL JADID
- PROGRAM KELAS UNGGULAN IPA
- MERETAS JALAN KE NEGERI TIRAI BAMBU
- TALK SHOW & SHARING
- BAWA PULANG 2 TROPHY DI OSN
- SMANJ@ TUNJUKKAN TARINGNYA DI OSSPEN’12
- TINGKATKAN KEDISIPLINAN MELALUI APEL DOA
- PRAKTEK PHL (PENGOLAHAN HASIL LAUT) KELAS X.11
- LEPAS PISAH KELAS AKHIR SMANJ@ WILAYAH AZZAINIYAH ‘11
- CLASS MEETING 2012

Comments