CINTA TAK PERNAH BUTA

Cerpen

Berawal dari sebuah ucapan selamat untuk seseorang yang selama ini menjadi matahari tanpa cahaya, selalu tertutup awan kelabu. Kata-kata yang tertulis rapi terangkai dalam sebuah sms untuk mengucapkan selamat kepada si Dulah, seseorang yang selama ini selalu menjadi harapan untuk bisa dijadikan sandaran hidupnya. Meski tiada celah sedikit pun bagi si Jannah yang selalu berharap untuk bisa menikmati rasa yang sebenarnya sepuluh tahun lamanya telah tumbuh subur di dalam kedua hati manusia yang harus terpisah

*

 

 

Dul…., sebuah panggilan yang biasa teman-teman sekelasnya menyebutnya. Dengan kacamata lebar yang selalu bertengger di hidungnya sejak setahun yang lalu lamanya. Anak pertama dari empat bersaudara ini, mulai kecil dididik orang tuanya untuk bisa menerima segalanya, hidup nrimo, kepada semua yang telah digariskan oleh Yang Maha Dahsyat. Dulah, duduk di kelas tiga sebuah SMP swasta, satu-satunya yang ada di desanya, bahkan satu-satunya di kecamatan sebuah kabupaten kecil di Jawa timur.

Eh, Dul… pagi ini kamu ceria sekali, ga’ kaya’ biasanya? tanya si Ari, temannya yang bertubuh subur itu.

Dul hanya menebar senyumnya, dan ngga’ menjawab.

Eh Dul…. kamu sudah mulai gila ya… senyum-senyum sendiri, Dul.. Dulah…..“desak si tubuh gembrot itu.

Maaf, ya Ri... bukannya aku sengaja nyueki kamu.. tapi aku lagi muas-muasin lihat si Jannah tuh…

Eh…, ternyata…… matamu kesana toh..!

“Ngga’ tau kenapa setiap aku melihat Jannah, ada sesuatu yang bergetar di dalam sini, he… he…” canda si Dulah sambil menepuk dadanya.

“si Jannah itu… dari dulu, sudah sekelas ma aku, jadi temenku dan tiap hari kita ketemu. Dan sebenarnya… aku suka sama dia. Dari cara bicaranya, suaranya, tingkah lakunya, aku suka, tapi.. aku takut. ga’ berani ngomong tentang perasaanku ini ke dia.”

“Hellohh… ko’ takut… Aku ingetin ya… jangan sampai, sepuluh tahun yang akan datang kamu akan menyesali perbuatanmu ini.” Kata Ari.

“Ko’ menyesal sih, Ri… maksudmu apa?” kejar si Dul dengan rasa penasarannya.

“ Ga’ ada maksud, kamu akan mengerti sendiri nanti.” Jawaban si Ari yang semakin membuat penasaran si Dul.

Aku takut Ri.. dia itu anaknya pintar, cerdas, coba bayangin ya, mulai dari TK, terus di SD sampai sekarang dia itu terus-terusan jadi juara kelas…, kalau sudah seperti itu, apa aku pantes mendekati dia, aku ini kan cuma cowok berkacamata yang kata orang, pasti pintar, tapi sebenarnya aku ga’ bisa apa-apa, dan lagi aku hanya anaknya orang tidak punya. Selain itu, sebenarnya dia masih ada hubungan saudara sama aku, tapi… cukup jauh juga sih….

“Begini Dul…” jelas si Ari, sambil menepuk pundaknya.

Teng Teng Teng………

Tiba-tiba bell sudah dipukul oleh pak kebun, tanda yang mengharuskan dua sahabat ini melanjutkan kelasnya, waktunya untuk menghafal vocabulary. Sebuah pelajaran yang sangat ditakuti dan dianggap sebagai “hantu”nya anak sekolahan.


*

“Assalamualaikum…” suara si Jannah sambil melangkahkan kakinya memasuki pintu rumah yang sederhana tapi sangat nyaman dan anggun, karena pohon-pohon mangga yang selalu setia melindunginya dari sengatan matahari.

“Wa alaikum salam..” jawaban lirih seorang ibu menyambut anak kesayangannya datang sekolah.

Tangan mungilnya si Jannah langsung mencium tangan ibunya.

Jannah, seorang gadis cerdas yang selalu jadi juara kelas di sekolahnya. Hidup dari keluarga sederhana tapi sangat bersahaja.

“Bagaimana sekolahnya tadi…. Baik-baik saja kan..?” Sebuah pertanyaan yang selalu terucap dari seorang ibu yang bijak itu kepada anaknya.

“Ah… biasa aja lah Bu..” jawab Jannah sambil merebahkan tubuhnya di kursi ruang tamu.

“Dulah tadi sekolah apa ga’ Na..” tanya ibunya.

Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba membuat hati Jannah bergetar tak tau arah, menggelegar bak halilintar menyambar halilintar. “e… tadi kaya’nya ada deh Bu…, emangnya kenapa, ko’ tumben Ibu nanyain si Dulah” jawabnya dengan wajah penuh pertanyaan.

“Oooh.. ya udah.. ga’ pa-pa, tadi pagi ibu dengar, kalo bapaknya Dulah sakit dan sekarang masih dirawat di rumah sakit.”

Kalimat yang terucap dari ibunya itu, menambah rasa yang ngga’ karuan itu mengobrak-abrik relung-relung hatinya. “Aku ngga’ mengerti kenapa hati ini tiba-tiba seperti ini ya…” gumam Jannah dalam hati.

Malam semakin larut, Jannah masih kepikiran dengan apa yang dikatakan ibunya tadi siang. “kasihan si Dulah… Kalo Bapaknya sakit, terus, bagaimana dengan keluarganya, kasihan Dulah”, Jannah terperanjat dari tempat tidurnya, “kenapa pikiranku ke Dulah terus sih…” gerutu si Jannah.

*

Pagi datang, begitu riangnya wajah anak-anak SMP swasta satu-satunya di desa itu, masuk sekolah dengan berharap segudang ilmu didapat, meski perasaan mereka seperti dihantui akan wajah-wajah seram bapak-ibu gurunya.

“Assalamualaikum Dulah….”

“Wa alaikumsalam…” spontan dengan terkejut membalikkan badannya.

“Kamu Na… e…, ada apa ya?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya begitu sulit untuk diucapkan.

“Dengar-dengar bapak kamu sakit ya…”tanya Jannah.

“e… iya, dan sekarang bapakku masih dirawat di rumah sakit. Jadi… tadi pagi aku ga’ bisa jualan kue, ibuku ga’ buat getuk lindri****) untuk aku jual. Tapi besok kaya’nya sudah boleh pulang ko’..” jawabnya

“Aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan cepat sembuh ya… kamu jangan sampai lupa belajar, jaga kesehatan, jaga diri baik-baik, sebentar lagi kita akan ada ujian” hibur Jannah.

“Makasih Na…”

*

Selembar awal di pagi yang sejuk, bagaikan hujan mengguyur sebuah ladang kering kerontang.

“Ya, Tuhan… begitu indahnya kata-kata itu, yang Kau berikan lewat si Jannah di pagi ini untukku” lamunan Dulah sudah kemana-mana.

“Dul…” Suara cempreng*****) si Ari membuyarkan semua lamunannya.

“Ada apa sich Ri…”

“Kamu tuh ya… pagi-pagi dah melamun, habis ketemu ma si Jannah ya… ketahuan nih...”

“Iya.. emangnya kenapa… Sudah lah, ngga’ usah dibahas, ngga’ penting.

*

Sebuah akhir masa-masa di SMP telah tiba, mereka harus menghadiri acara kelulusan sekolah yang digelar di SMP itu. Semua siswa berkumpul dengan wajah yang bahagia karena mereka semua lulus, tapi di sisi yang lain mereka sedih harus merelakan untuk berpisah dengan teman-temannya yang begitu dekat, layaknya saudara.

Perasaan Dulah yang begitu membara harus dibiarkan begitu saja, melelehkan semua sisi hatinya karena dia harus melihat dan merelakan Jannah harus pindah berangkat ke sekolah yang jauh tak terjangkau olehnya. Apakah harus seperti ini, apakah harus aku biarkan perasaanku ini membakar seluruh relung hatiku, apakah harus aku biarkan rasa takutku untuk tidak mengungkapkannya.

Kata-kata “apakah harus, apakah harus, dan apakah harus” selalu membabi buta, menabrak sana sini, menyeruduk ke seluruh ruang otak kanan dan kirinya.

Apalagi, dulu Dulah sempat mendengar ucapan ibunya, saat itu ibunya sedang menasihati pamannya yang akan menikah dengan seseorang yang masih ada hubungan saudara dengan mereka.

”Kalian semua.. nanti, kalau mencari pasangan HARUS dari keluarga lain, jangan yang masih saudara, seperti pamanmu itu, supaya nantinya keturunan kalian bisa baik dan sehat”.

Kata-kata ibu tercintanya itu, selalu terngiang jauh… masuk dan menusuk dalam hati Dulah.

Dan memang benar atau hanya kebetulan saja, ternyata anak hasil pernikahan pamannya itu selalu tidak diberi kesempatan untuk bisa menikmati indahnya dunia. Dari kejadian itulah, Dulah berpikir, sepertinya aku harus memendam semua perasaanku ini untuk Jannah, tapi rasa ini tidak akan pernah aku matikan, apalagi menghapusnya.

Bertahun-tahun perasaan itu tetap membara membakar seluruh rasa yang ada di hati Dulah.

Ketika mendengar sebuah kabar yang tidak diharapkan Dulah, ternyata kakak Jannah harus menikah dengan saudara dekatnya Dulah. Dulah semakin merasa harus hidup jauh dari si Jannah. Dia linglung, bingung untuk menapaki langkah-langkah kakinya menuju arah yang tak ada tujuan. Semakin jauh dia melangkah dengan rasa yang tak pernah padam untuk Jannah, kemana pun dia ada dan berada, kemana pun dia bernapas dan menatap luas, kemana pun dia menikmati indahnya malam tanpa bulan, kemana pun dia melihat pelangi tanpa warna-warni. Rasa untuk Jannah tak pernah padam. Sampai pada puncak kekecewaannya, tanpa sadar dia bersumpah di depan Tuhannya atau bahkan iblis-Nya. Dulah bersumpah di depan seluruh roh kehidupan, TIDAK AKAN BISA SEORANG PUNN DI MUKA BUMI INI UNTUK MEMILIKI si Jannah.

Kata-kata itu menembus cakrawala Tuhan, dan didengarkan oleh sejagat mata kehidupan. Dulah sempoyongan, merangkak, mencoba bisa berdiri, membanting belulangnya, terkapar, meratapi nasibnya. Meratapi rasa ketakutannya untuk bisa berterus terang. Meratapi semua kegagalannya membuka pembicaraan untuk bisa mengungkapkan isi hatinya. Meratapi kalau dia tak akan bisa memiliki si Jannah untuk selamanya.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun, hampir sepuluh tahun lamanya, Dulah pun akhirnya jatuh dan terperangkap dengan kesenangan-kesenangan dunia fana semata, asap narkotika, air surga beraroma alkohol, daun-daun kenikmatan berbentuk ganja, perempuan-perempuan binal yang selalu menemani untuk meratapi semua ini. Tanpa ada seorang pun yang peduli padanya. Bahkan saudara, yang tahu akan pedihnya, carut marut hatinya, tak satu pun, peduli padanya.

“Tuhan…. Engkau ciptakan sesosok manusia yang ada dalam hatiku, Jannah. Engkau anugerahkan rasa ini Tuhan, tapi kenapa Tuhan… Kau tidak memberi kesempatan sedikitpun untukku, tidak memberi kekuatan untuk membukanya sedikitpun”. Kalimat itu selalu ada dalam aliran darah merah si Dulah.

*

“Dunia tidak harus gelap untuk selamanya kamu harus bisa melewatinya, Dulah”, kata itu muncul dari seorang wanita, yang bisa melunakkan dan menyejukkan hati si Dulah. Wanita ini bisa menerima keadaan si Dulah dan selalu mendampingi dia dengan penuh rasa sayang, meski dengan rasa pesakitan yang masih begitu membekas di diri Dulah.

Saat akhirnya, semua harus memasuki sebuah kehidupan yang baru, sebuah jalinan pernikahan. Dulah mengatakan dalam hatinya,”Inilah jalan baru yang harus aku lewati dengan rasa penuh tanggung jawab dan cinta untuk keluarga baruku”.

Syifa’, wanita pembawa lentera, penerang hati si Dulah yang selama ini gelap gulita.

Mereka berdua menjalani kehidupan yang baru. Syifa, menuntunnya pelan untuk belajar merangkak, mulai sedikit demi sedikit untuk bisa berdiri kembali, membuka mata dan menatap matahari pagi yang cerah. Secerah semangatnya, saat berangkat pagi-pagi ke sebuah SMP swasta, sepuluh tahun yang lalu, yang dia geluti dengan Ari, sahabat dengan perut gembrotnya.

Meski dia sudah bisa bercengkerama indah dengan Syifa, berkeluarga dan menimang seorang insan mungil titipan Ilahi. RASA yang tak pernah padam untuk si Jannah, tetap tersimpan di hati si Dulah. Dan tetap saja membakar separo hatinya.

*

Terkadang masih terbersit lirih dalam hati Dulah,”Na… kamu sekarang ada dimana?”.

Duduk termangu di bawah luasnya cakrawala, sebesar kekuatan dan rahasia Tuhan, sebesar rasa yang dianugerahkan Tuhan padanya. Tiba-tiba berdering Nokia Tune dari handphonenya, kata-kata terangkai dalam SMS dari nomor yang tak dikenalnya, mengucapkan “Selamat ya Dul, sekarang dirimu sudah bisa menemukan lentera dan terbebas dari gelapnya dunia.”

Di akhir rangkaian kata-kata itu tertulis indah sebuah nama ‘JANNAH’.

Tak ada satu pun yang bisa Manahan dan melarang, sekeras batu pualam, sekuat tembok Cina, seluas Niagara, tak satu pun yang bisa menahan tangan Dulah untuk langsung menghubungi nama yang masih tertulis indah di hatinya itu.

“Jannah kan.., Kamu sekarang ada dimana Na…?” sapa Dulah dengan bibir yang begitu berat untuk berucap.

“Aku sekarang ada di sebuah tempat yang jauh, yang begitu indah untuk bisa membayangkan dirimu Dulah”, jawab Jannah.

“Selamat ya.. Dul…., kamu sekarang sudah bisa tersenyum untuk melihat cerahnya dunia” sebuah pertanyaan yang sebenarnya begitu menyayat hati si Jannah, menolak untuk berkata-kata dan memaksa harus melelehkan air matanya. Karena sesungguhnya Jannah, sampai detik itu pun, selama sepuluh tahun masih bisa menjaga hatinya, menjaga cintanya hanya untuk si Dulah.

“e… makasih Na… kamu masih ingat ma aku, kamu baik-baik saja kan di sana, maaf nih, Na… kamu sendiri ‘kapan’?”, pertanyaan itu terlontar dari hati Dulah.

“Dul… aku paham maksud kamu, kamu menanyakan kapan aku menikah kan…. Dul, selama sepuluh tahun lebih, kita tidak pernah bertemu, kita telah dihadapkan bermacam-macam pengalaman, kamu tidak perlu menanyakan hal itu. Aku tidak bisa menjawabnya, karena sampai saat ini pun aku masih hidup sendiri, dan aku akan memilih untuk selalu hidup sendiri” jawab Jannah.

Jawaban Jannah, memberikan secercah cahaya, setetes air, untuk memberanikan diri Dulah membuka semua rasa yang selama ini masih tersimpan dan tidak akan ada matinya yang dimiliki Dulah untuk Jannah.

“Na… sebenanya ada sebuah cerita yang cukup besar bagiku. Dan cerita itu sampai sekarang masih aku bungkus rapi hanya untukmu, sebenarnya aku… aku…. aku…. sangat sayang sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu” kalimat Dulah meluncur tajam, menghujam.

Kata-kata yang selama sepuluh tahun, ditunggu dan selalu ditunggu, akhirnya bisa muncul dan bisa menyejukkan rasa pedih, perih dalam hati Jannah. Seakan segelas air segar mengguyur seluruh relung hati Jannah yang selama ini telah lama mengering. Rasa selama sepuluh tahun, mengikat, melekat, dan menancap erat di hati Jannah, dia setia untuk selalu menjaga hatinya hanya untuk Dulah.

“Dul… Aku diciptakan Tuhan, mungkin hanya untuk dicintai saja, itu pun kalau ada yang bisa cinta sama aku. Aku sudah tidak bisa mencintai orang lain lagi, aku tidak bisa mencintai laki-laki selain diri kamu Dul. Sebenarnya rasa ini sudah melekat lama sejak bapak kamu dulu sakit, sejak kamu tidak bisa jualan kue, saat kita masih di SMP dulu, saat itu aku begitu khawatir sama kamu. Dul… tapi selama itu pula, kamu tidak pernah mengatakan se patah kata pun tentang semua rasa yang kamu miliki untukku”, jawab Jannah.

Mendengar keindahan kata-kata Jannah. Bergetar, menyambar, meledak, meremukkan semua kerasnya hati si Dulah.

“Tuhan, bukalah semua IKATAN yang pernah aku sumpahkan di atas tangan-Mu waktu itu. Tuhan…. Aku tidak bisa menghadapi semua ini, aku tidak bisa menghadapi ciptaan-Mu ini Tuhan. Begitu mulyanya hatinya Tuhan… Begitu besarnya cintanya untukku Tuhan… Kenapa Kamu baru buka saat ini, kenapa Kamu buka rahasia-Mu di saat aku sudah tidak mungkin memilikinya lagi Tuhan. Di saat aku sudah berkeluarga dengan orang lain…”

“Tuhan, ternyata Kau ciptakan sesosok manusia yang begitu mulia di hadapanku, manusia yang begitu indah di hadapanku. Dia tidak pantas untukku Tuhan, dia manusia yang begitu suci, bisa menjaga hatinya selama sepuluh tahun hanya untukku, aku terlalu kotor, kotor, dan kotor untuknya, tidak pantas, sangat tidak pantas Tuhan”, protes demi protes hanya bisa dilontarkan Dulah kepada Tuhannya.

“Dul… kita harus hadapi semua ini dengan tersenyum, aku akan tetap sayang sama kamu, aku akan tetap mencintai kamu sampai aku tidak bisa merasakan rasa itu lagi atas ijin Tuhan, meski sekarang aku sudah tidak bisa memiliki sepenuhnya diri kamu. Kamu telah memiliki tempat khusus dalam hati aku. Tidak akan bisa ada laki-laki lain yang menggantikan tempatmu di hatiku Dul..” jelas Jannah

“Sekarang lain Na…, aku sudah berkeluarga, kaya’nya aku tidak mungkin lagi bias memiliki kamu. Meski bagi aku, SESUATU YANG TIDAK MUNGKIN ADALAH SATU-SATUNYA HAL YANG MASIH MUNGKIN BISA TERJADI. Kamu tetap ada di hatiku, apapun yang Tuhan tuliskan, aku tetap mencintai kamu dan berusaha menjaga hati selalu untukmu”, Dulah mengungkapkan semua isi hatinya.

Di sela doa-doa dan malam-malam yang sunyi terbersit kata indah untuk-Mu, Tuhan. Jangan butakan hati mereka berdua yang lagi resah. Semua resah yang dimiliki hati manusia, untuk bisa membagi kisah atas nama cinta-Mu dan Kau hembuskan ayat-ayat cinta untuk mereka. Untuk kisah cinta tertunda Dulah dan Jannah.

Komentar:

 

Comments 

 
+2 #3 Baca di China, Huaqiao University.Novi Basuki 2010-09-03 14:16
Saya baca CERPEN ini, pertama kali pada tanggal 30 Januari 2010. Waktu itu, saya masih duduk di bangku SMANJ@. Sekarang, saya sudah berada di bangku yang beda dengan sebelumnya. Duduk di bangku perkuliahan Huaqiao University, China.
Hari ini, kebetulan tidak ada kegiatan. Saya buka WEB SMANJ@. Lalu, baca cerpen ini bersama teman-teman China saya. Teman-teman saya meminta untuk diterjemahkan ke Bahasa Tionghoa. Ketika mendengar terjemahan itu, semua teman saya berkata: "Ni de laoshi hen hui zuo xiaoshuo ba! Liaobuqi. Gushi hen hao ting (Gurumu pintar buat cerpen ya! Luar biasa. Ceritanya juga sangat menarik)."
Quote
 
 
+3 #2 RE: Cinta tak Pernah ButaRavi Dinul H 2010-03-07 14:14
GAK DITERBITKAN PAK????
Quote
 
 
+3 #1 good ...Novi Basuki 2010-01-30 16:37
ceritabya menarik pak !!!
Quote
 

Add comment

Demi keamanan situs, komentar anda sudah kami terima, menunggu persetujuan dari Admin. atau silahkan Login untuk mempermudah menulis komentar di situs ini. Terima kasih.


Security code
Refresh

Lainnya ...

Login Anggota

Website Sekolah