HIJRIYAH; Sebuah Ruang Perenungan

Artikel

Saat ini kita berada di penghujung tahun 1429 Hijriyah, tepatnya Bulan Dzulhijjah. Nanti selepas waktu sholat ‘Asar ketika matahari terbenam, kita sudah memasuki awal tahun baru Islam yaitu tahun 1430 Hijriyah. Suatu perubahan waktu yang ditandai dengan munculnya bulan sabit dari ufuk barat. Berbeda dengan tahun baru Masehi yang dimulai dari pukul 00.00 WIB.

Saya yakin tidak akan ada tiupan terompet, panggung musik dengan sekian artis ternama yang dihiasi kembang api semalam suntuk atau sms-sms berterbangan dengan kata “Happy New Year” kemudian esoknya melakukan rekreasi ke tempat-tempat wisata. Akan tetapi Tahun Baru Islam diperingati dengan acara pembacaan do’a akhir tahun setelah waktu ‘Asar kemudian membaca do’a awal tahun setelah waktu Maghrib, baik dilakukan sendiri ataupun bersama-sama, disertai amalan-amalan sunnah seperti puasa sunnah pada akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram, tradisi ini terus membudaya di kalangan umat Islam sampai sekarang.

 

Arti Hijriyah

Secara harfiyah Hijriyah atau Hijrah berasal dari Bahasa Arab Hajara ‘ala wazni Fa’ala artinya berpindah. Berpindak dari satu tempat ke tempat lain. Sebutan Hijriyah kemudian dihubungkan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dengan para sahabat dari Kota Makkah menuju Madinah (dulu bernama Yastrib).

Konon kata Yastrib berasal dari kata Asiris yaitu nama salah satu suku yang berasal dari hulu sungai Nil Mesir, mereka menempati daerah itu dan menamakannya untuk mengenang daerah asal mereka.

Apa gerangan yang melatarbelakangi penamaan kalender Islam menjadi Kalender Hijriyah, kenapa tidak dimulai dari lahir atau wafatnya Nabi saja atau dilantiknya Nabi menjadi Rosul, atau juga dimulai dari sejarah-sejarah besar Islam lainnya seperti legenda heroik Perang Badar yang merupakan perang terbesar dalam sejarah perang Islam selama di Madinah, atau dimulai dari peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW, sebuah safari spiritual dari Masjid Al Haram menuju Masjid Al Aqsa, kemudian melesat ke Sidrotul Muntaha, sebuah perjalanan yang diwarnai dengan banyak tamsil, sebuah simulasi balasan Allah atas amal-amal yang telah dilakukan hamba ketika dibumi, dan menghasilkan sebuah misi bernama sholat yang sampai saat ini menjadi kewajiban kita sebagai orang Islam

Rupanya ada kejadian yang lebih menarik dan lebih tepat untuk menjadi landasan kalender Islam yaitu peristiwa Hijriyah.

Sejarah Hijriyah

Pada waktu Nabi Muhammad SAW pertama kali berda’wah di kota Mekkah banyak sekali cobaan yang datang pada Nabi, tidak hanya dari orang kafir Quraisy melainkan juga dari keluarga Nabi yaitu Abu Lahab dan Abu Jahal. Namun keteguhan iman beliau tidak diragukan lagi, bahkan ketika Abu Tholib yang juga keluarga Nabi membujuk Nabi untuk menghentikan dakwahnya, sekaligus menawarkan kedudukan, harta dan perempuan-perempuan cantik dari orang-orang Quraisy, Nabi dengan tegas menjawab:

“Paman! Katakan kepada mereka si gembong Quraisy, andai matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku menghentikan da’wah ini, aku tidak akan pernah berhenti sampai aku selesai menunaikannya atau aku tewas di dalamnya”

Semakin hari keganasan orang-orang Quraisy semakin menjadi, selain Nabi mereka juga memusuhi orang-orang Quraisy yang beriman. Saat itu posisi Islam semakin teraniaya. Akhirnya Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk hijrah dalam rangka menyelamatkan misi Islam.

Berangkatlah para sahabat ke Madinah disusul Nabi Muhammad SAW dan sahabat lainnya. Sebelumnya Nabi mengutus beberapa sahabat ke Ethiopia, untuk meminta suaka ke Raja Habasyah yang masih teguh menganut ajaran Ahli Kitab yang percaya dengan adanya seorang Nabi penutup akhir zaman bernama Ahmad (Nabi Muhammad SAW). Nabi juga sempat bersembunyi dari kejaran orang-orang kafir di Gua Tsur bersama Abu Bakar selama tiga hari.

Setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya rombongan Nabi tiba di Madinah, ketika pintu gerbang Madinah dibuka, penduduk di sana sudah berderet menyambut kedatangan Nabi dengan pukulan rebana penuh suka cita, disertai lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW:

Tola’al badru ‘alaina, min tsaniyatil wada’, wajabas syukru ‘alaina, maa da’a lillahi da’

“ telah datang bulan purnama dari lembah wada’, wajib kita bersyukur atas kehadirannya atas seruanNya mengajak kepada kita”

Peristiwa hijrah inilah yang kemudian menjadi tonggak sejarah monumental Islam. Sejak itulah Islam mengalami kebangkitan (renaissance) secara total sehingga menjadi masyarakat yang berdaulat dan menjunjung tinggi Akhlakul Karimah.

Tapi penetapan Kalender Hijriyah bukan ditetapkan pada waktu Nabi Muhammad SAW masih hidup, melainkan pada masa pemerintahan Umar bin Khottob, yaitu pada tahun ke-5 dari 10 tahun pemerintahan Umar bin Khottob. Pada waktu itu Kholifah Umar bin Khottob menerima surat dari Abu Musa Al Asy’ari seorang Gubernur Negara Kufah, sebuang Negara yang menjadi salah satu daerah kekuasaan Madinah. Surat tersebut berisi usulan untuk membuat kalender Islam karena surat-surat yang selama ini ia terima dari Kholifah Umar bin Khottob hanya bertanggal tapi tidak bertahun. Atas usulan Abu Musa Al Asy’ari, Umar bin Khottob kemudian mengumpulkan sahabat-sahabat yang ada di Madinah untuk mengadakan musyawarah. Muncul beberapa usulan di antaranya:

  1. Disamakan dengan kalender Romawi

  2. Dimulai dari lahirnya Nabi Muhammad SAW

  3. Dimulai dari Wafatnya Nabi Muhammad SAW

  4. Dimulai dari dilantiknya Nabi Muhammad SAW menjadi rosul

  5. Dimulai dari peristiwa Isro’ mi’roj, dan yang terakhir usulan Ali bin Abi Tholib yaitu;

  6. Dimulai darai peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW

Dari musyawarah itu menghasilkan kesepakatan bahwa penetapan dan penamaan kalender Islam mengacu pada peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW, karena di situ mengandung momen sejarah yang menentukan hidup matinya Islam.

Jadi kalau dihitung menurut kalender Masehi, peristiwa Hijrah terjadi pada tahun 622 Masehi dan Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 633 Masehi sedangkan keluarnya keputusan kholifah Umar bin Khottob tentang penetapan kalender Hijriyah pada tanggal 638 Masehi, sehingga ditetapkan pada waktu itu sebagai tahun 17 Hijriyah.

Sekedar catatan kecil!

Hijriyah lebih cepat dari Masehi dengan selisih 11 hari, sehingga semakin hari selisihnya tambah sedikit dan konon katanya rumus, keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Hijriyah dan 20526 Masehi, entah saat itu kirta sudah ada di mana?


Hikmah Hijriyah

Secara tegas di dalam Al-Qur’an beberapa ayat menyebutkan bahwa Allah memberi penghargaan yang tinggi kepada orang yang berhijrah.

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (At Taubah:20)

Dan di dalam salah satu hadist Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Hanya saja setiap amal itu tergantung pada niat, dan setiap seseorang itu tergantung dari pada apa yang ia niatkan, maka barang siapa berhijrah karena Allah dan Rosulnya maka ia akan mendapat pahala dari Allah dan Rosulnya, dan barang siapa berhijrah karena karena dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka ia hanya mendapatkan apa yang dicari”(HR. Bukhori Muslim)

Ada sebuah semangat juang pantang putus asa dan rasa optimisme yang terdapat di dalam dada setiap orang Islam pada waktu itu, mereka rela meninggalkan Mekkah tanah kelahirannya yang kala itu disebut Bumi Syirik, rela meninggalkan harta dan sanak keluarganya demi mempertahankan keimanan mereka menuju Bumi Mukmin Madinatul Munawwaroh. Semangat itulah yang seharusnya mempengaruhi kita untuk turut juga berhijrah, meskipun bukan lagi seperti hijrahnya Nabi Muhammad SAW melainkan seperti yang tersebut dalam sebuah hadits shohih:

“ Orang yang hijrah adalah orang yang meningggalkan apa yang dilarang oleh Allah kepadaNya”

Mari kita kita jadikan Tahun Baru Islam ini sebagai ruang untuk bermuhasabah, introspeksi atas segala yang telah kita lakukan di tahun-tahun sebelumnya sebagai teguran sejaran dalam menapaki tahun yang akan datang. Mari kita luruskan niat untuk memperbaiki hablum minallah dan hablum minannaas kita agar kelak menjadi orang yang beruntung:

“ Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi, dan barang siapa hari ini lebih jelek dari kemarin adalah orang celaka”

Betapa kayanya Islam dengan banyaknya peristiwa-peristiwa yang terekam dalam Hijriyah, seperti peristiwa Maulid Nabi Muhammad SAW, Isro’ Mi’roj, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, Nuzulul Quran dan peristiwa lain yang sengaja dirancang oleh Allah untuk menjadikan umat Islam lebih mendekatkan diri kepada Allah & RosulNya, tidak lain dan tidak bukan karena Allah meghendaki kita untuk tetap berada dijalan Sirotol Mustaqim-Nya yaitu “Jalan orang-orang yang telah Engkauanugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al Fatihah:7)

 

* * *

 

 

 

 

Sebuah Renungan Akhir Tahun

JANGAN-JANGAN ?

 

Sejenak kita merenung

Seperti apakah penghambaan kita padaNya?

Apakah kita benar-benar Islam atau kita Islam karena orang tua kita Islam?

Apakah kita benar-benar iman atau sekedar merasa karena sudah hafal rukun iman

Benarkah kita sudah melaksanakan rukun Islam?

Jangan-jangan seperti kata penyair Mustofa Bisri

syahadat kita rasanya seperti perut bedug atau pernyataan setia pegawai rendahan saja, kosong tak berdaya.

Setiap Adzan berkumandang kita sholat meski seringkali terlambat, lalu mengangkat tangan bergaya pasrah layaknya penjahat tertangkap aparat, bertakbirotul ihram dan berikrar INNA SHOLATII WA NUSUKII WA MAHYAYA WA MAMAATII LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN, sesungguhnya sholatku, hidupku, matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.

Entah di luar sholat kita masih memegang ikrar yang kita ucapkan lima kali dalam sehari itu atau jangan-jangan kita sholat sekedar ritual jungkir balik tanpa makna, karena raga kita saja yang sholat tapi pikiran dan jiwa kita mengembara kemana-mana.

Apakah kita berzakat dan bersedekah karena ingin menyucikan harta atau komersial agar kontan di balas dengan harta berlipat ganda, dengan seperti itu hidup kita akan lebih enak di dunia.

Jangan-jangan Puasa kita sekedar mengubah jadwal makan minum tanpa menggeser acara buat sahwat dengan begitu kita sudah merasa memikirkan saudara kita yang melarat

Entah kita benar-benar berhaji menapak tilasi keteguhan iman Nabi Ibrahim a.s. atau sekedar bertamasya menghibur diri mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan membeli gengsi lalu pulang membawa label suci asli made ini Saudi; HAJI

Jangan-jangan kita menganggap Tuhan seperti Aspirin, dalam keadaan enak kita sering lupa tapi ketika di beri sedikit kesusahan membuat kita sakit kepala sambil mengeluh “Ya Allah!”

Jangan-jangan kita membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan sekian putaran tasbih sudah merasa berhak mendapat syafa’atnya, padahal Nabi masih belum merasa disalami kita, karena ternyata sholawat yang kita baca hanya sekedar meramaikan acara-acara

Jangan-jangan Al-Quran yang kita baca hanya melewati kerongkongan tanpa melewati hati, karena kita masih bangga sekali jika bisa khatam Al-Quran berkali-kali.

Jangan-jangan……………dan jangan-jangan………….

 

Kita perlu untuk curiga pada diri sendiri karena jangan-jangan selama ini kita sudah kelewat PD untuk masuk surga

 

***********

Sekedar renungan dari sisi hati kecil saya, anda boleh punya cara berbeda untuk merenungkan hidup anda, keberanian anda untuk membebaskan pikiran, membuka belenggu jiwa dan mengembalikan hati ke titik nol. Saya yakin semua itu akan menjadi titik awal kreativitas dan kepekaan kita sebagai hamba, agar kita bisa menjadi hamba yang benar-benar menghamba

 

Mohon kritik&saran apabila ada kesalahan dalam penulisan artikel ini, yang benar hanya milik Allah, yang salah mutlak milik penulis, Wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq, Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarokatuh

 

Ulfatul Hasanah, S. Pd. I.

BATAM CENTER, KEPRI

 

Komentar:

 

Add comment

Demi keamanan situs, komentar anda sudah kami terima, menunggu persetujuan dari Admin. atau silahkan Login untuk mempermudah menulis komentar di situs ini. Terima kasih.


Security code
Refresh

Lainnya ...

Login Anggota

Website Sekolah