• heder422
  • 4
  • 1
  • 3

Selamat Datang di Website SEKOLAH MENENGAH ATAS NURUL JADID | Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SEKOLAH MENENGAH ATAS NURUL JADID

NPSN : 20546523

Jl.KH.Zaini Mun'im Karanganyar Paiton Probololinggo 67291 Jatim


kantor@smanj.sch.id

TLP : (0335) 771202


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 182637
Pengunjung : 62937
Hari ini : 27
Hits hari ini : 103
Member Online : 25
IP : 54.198.246.116
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • WIKE KRISTIAN (Siswa)
    2016-05-09 09:38:38

    karna, hanya kamu yang kurindukan ! salahkah? #yus
  • FITRIAH NUR KAMILAH (Siswa)
    2016-04-26 10:44:57

    2|3
  • UMMI KULSUM (Siswa)
    2016-04-24 10:37:02

    pengen ada pelajaran TIK tapi yahhhhh..... nasib nasib program bahasa suabuarrrrrrrrrrrr...........
  • FITRIAH NUR KAMILAH (Siswa)
    2016-04-24 10:23:32

    buat unilant semangat yah ... stuken be the winner
  • ANA MUFIDAH ZANDA (Siswa)
    2016-04-12 12:38:57

    alhamdulillah sudah bergabung,, #71
  • SHALIHIN, S.Kom. (Admin)
    2016-04-12 12:36:01

    1|2
  • ANA MUFIDAH ZANDA (Siswa)
    2016-04-12 12:33:22

    undefined
  • WIKE KRISTIAN (Siswa)
    2016-04-12 12:30:32

    ALHAMDULILLAH :D
  • UMMI KULSUM (Siswa)
    2016-04-12 12:25:21

    smanj tambah disiplin #good job
  • SOFI ZAKIYA (Siswa)
    2016-04-12 12:23:52

    alhamdulillah...sudah bisa bergabung!!!

Boneka Katthog: Boneka Penghibur Pejuang Yang Hampir Punah




Di zaman  modern seperti saat ini terdapat hiburan yang begitu banyak untuk dipilih. Berbeda dengan zaman dahulu yang belum mengenal teknologi dan terbatas oleh media. Kini jika ingin menghilangkan stress dan menghibur diri kita dapat bermain game online, pergi ke bioskop atau menonton konser. Sedangkan pada zaman dulu tak banyak media yang bisa digunakan sebagai hiburan. Hiburan dahulu masih bersifat tradisional dan sederhana. Beberapa contoh hiburan zaman dahulu seperti ludruk, ketoprak, dan wayang golek. Satu lagi kesenian yang sudah hampir punah yaitu Boneka Katthog. Pernahkah kalian mendengar atau mengetahui tentang  boneka katthog ini? Mungkin belum pernah. Padahal boneka asal kota tape Bondowoso ini sangat digemari masyarakat dan menjadi tontonan favorit pada zamannya, bahkan pernah tampil di TVRI tahun 1980-an. Namun keberadaan boneka ini kini mulai hilang dimakan oleh zaman. Tak ada penerus dan tak banyak peminat yang tersisa.  Pembuat boneka ini adalah alm. Ramidin asal Kota Kulon Bondowoso. Beliau meninggal dunia dan tak memiliki seorang penerus untuk membuat boneka ini lagi. Kami (MISI.red) berkesempatan mengunjungi rumahnya di Jalan Diponegoro, Gang Malabar, Kota Kulon Bondowoso. Disana kami bertemu dengan putri bungsu beliau yang bernama Dini Septianingsih. Mbak Dinilah yang menjelaskan kepada kami tentang apa itu boneka Katthog.

            Boneka Kathhog diciptakan oleh alm. Ramidin pada tahun 1947. Tujuannya adalah sebagai hiburan kepada masyarakat yang tak memiliki satupun hiburan. Selain itu boneka ini juga menjadi penyemangat para pejuang yang sedang berperang menghadapi para penjajah dari Jepang dan Belanda. Saat boneka dimainkan dan beradu satu sama lain menimbulkan bunyi “TOG-TOG”, sehingga dikenal orang setempat dan diberi nama Boneka Katthog. Banyak orang mengira nama boneka ini berasal dari pakaian dalam yang digunakan, karena dalam bahasa madura katthog berarti pakaian dalam, padahal tidak seperti itu. Wartawan yang meliput boneka ini juga terkadang salah memberi nama boneka ini dengan katthok, padahal yang benar adalah katthog yang menggunakan huruf ‘g’ bukan ‘k’.

            Bahan untuk membuat boneka katthog ini adalah kayu kapuk randu. Kayu ini dipilih karena dinilai ringan saat dimainkan dan mudah dibentuk. Setelah kayu kapuk randu dipotong kemudian akan direndam selama satu minggu. Kayu yang sudah direndam akan menjadi lebih ringan. Setelah dikeringkan kayu akan dipahat bagian wajahnya agar menyerupai manusia. Setelah kepala selesai diukir kemudian wajahnya dicat dan diberi rambut. Rambut yang digunakan merupakan rambut asli manusia yang di tempelkan ke kepala boneka. Boneka terdiri dari dua bagian, yaitu kepala dan tubuh. Hal yang tersulit adalah saat membuat kerangka. Bagian kerangka tersusun atas berbagai macam bahan. Mulai dari kayu, besi, kawat dan beberapa jenis kain untuk perut dan anggota badan lainnya. Semua bagian dari boneka katthog digerakan dari dalam. Hal ini yang membedakan boneka ini dengan wayang atau boneka lainnya. Saat menonton wayang kita akan melihat tongkat yang menggerakan tangan wayang tersebut, berbeda dengan boneka katthog yang seluruh gerakannya dari dalam. Boneka ini bagaikan hidup dan bergerak dengan sendirinya, hingga ada beberapa orang dulu yang memberikan boneka ini pisang karena dianggap anak sungguhan. Permainan boneka katthog bisa berlangsung selama satu jam. Karena hal itu boneka dibuat ringan agar sang dalang tidak kelelahan saat pertunjukan. Pasalnya selama pertunjukan dalang akan mengangkat boneka diatas tabir. Beberapa boneka memiliki keunikan, ada yang bisa mengedipkan mata, memegang mic bahkan ada boneka yang bisa merokok dengan rokok asli. Beberapa tokoh boneka memiliki peran dan namanya sendiri. Contohnya Udin sang pembawa acara, Nur Hayati sang penyanyi, Pak Raden yang bisa merokok dan beberapa boneka sebagai penari, pemain musik, juga pak sakera. Yang memiliki ide membuat boneka ini adalah Pak Ardji; teman dari alm. Ramidin. Namun, boneka milik Pak Adji tidak terlalu besar, ukurannya hanya 20-30 cm. Kemudian,Ramidin memperbaikinya dan membuatnya lebih besar. Sekarang ukuran boneka ini bisa mencapai setengah meter.

            Seni boneka katthog yang awalnya menghibur warga Bondowoso yang tertekan penjajah, berubah menjadi seni pertunjukan. Boneka ini biasanya akan manggung dari desa ke desa untuk acara khitanan, selamatan dan pernikahan. Bukan hanya menghibur, boneka ini juga bernilai edukatif dan sempat digunakan untuk program penyuluhan KB. Pasalnya masyarakat akan lebih mudah menggerti jika menggunakan cerita daripada hanya dengan nasehat saja. Selain itu ada beberapa orang yang meminjam boneka  ini untuk suatu acara. Contohnya salah satu guru SDN Kuta Kulon 1 Bondowoso yang bernama Siti Mutawarrida. Bu Ida, panggilan akrabnya, menggunakan boneka ini sebagai media untuk menyampaikan ceritanya dalam lomba bercerita Bahasa Madura tingkat se-Jawa Timur. Keluarga Ramidin tidak mudah memberikan pinjaman kepada setiap orang yang ingin meminjam boneka ini. Pasalnya banyak boneka yang tak kembali lagi setelah dipinjam, mereka akan meminjamkan boneka ini kepada orang dekat yang dapat dipercaya. Masalah ongkos peminjaman tidak dikenai biaya khusus, hanya kesadaran dari sang peminjam saja. Banyak orang yang menawar boneka ini dengan harga yang tinggi, bahkan ada yang sampai berasal dari luar negeri. Namun mereka tak mau menjualnya karena boneka ini merupakan sebuah warisan dari ayah mereka.

            Kini kondisi boneka ini mulai memprihatinkan, jumlah boneka hanya tersisa belasan dan hanya disimpan didalam sebuah koper sederhana. Banyak boneka yang rusak dimakan zaman, Hal ini diperparah dengan kurangnya para peminat. Kesenian ini bagaikan hilang dan kalah dengan hiburan modern. Keluarga dari Alm. Ramidin masih berharap agar boneka ini tetap lestari. Tapi banyak kendala yang mereka hadapi. Selain kurangnya peminat, faktor lain adalah tidak adanya dalang. Dalang yang tersisa adalah Bapak Karyadi yang merupakan salah satu staf di Dinas Pariwisata Bondowoso. Hingga saat ini belum ada yang bisa menjadi dalang karena diperlukan keahlian dalam munguasai cerita dan pandai mengganti suara. Terkadang mbak Dini juga berharap peran dari generasi muda, tapi dia merasa pesimis karena banyak hiburan lain yang lebih menarik. Mungkin yang bisa mbak Dini lakukan hanya menyimpan boneka katthog ini baik-baik sebagai kenangan dari ayahnya. Mbak Dini juga ingin membuat lemari kaca untuk menyimpan boneka-boneka ini. Hal itu lebih efektif daripada hanya koper sederhana namun lemari kaca harganya terlalu mahal. Tugas kita adalah menjaga betul kesenian-kesenian ini agar tidak punah. Karena kebudayaan Indonesia harus kita lestarikan, jangan sampai membiarkanya punah.

Bila kalian tertarik untuk mengundang boneka kathog, bisa menghubungi Karyadi di Kantor Parsenibud Bondowoso, di Jalan A. Yani Telp.0332-427305, atau datang ke Pusat Ludruk Boneka Katthog di Desa Kota Kulon, Kec. Bondas (Gang Malabar) RT 22 RW 7 Jalan Diponegoro 24 Bondowoso.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas