• heder422
  • 4
  • 1
  • 3

Selamat Datang di Website SEKOLAH MENENGAH ATAS NURUL JADID | Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SEKOLAH MENENGAH ATAS NURUL JADID

NPSN : 20546523

Jl.KH.Zaini Mun'im Karanganyar Paiton Probololinggo 67291 Jatim


kantor@smanj.sch.id

TLP : (0335) 771202


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 182450
Pengunjung : 62869
Hari ini : 23
Hits hari ini : 63
Member Online : 25
IP : 54.81.195.240
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • WIKE KRISTIAN (Siswa)
    2016-05-09 09:38:38

    karna, hanya kamu yang kurindukan ! salahkah? #yus
  • FITRIAH NUR KAMILAH (Siswa)
    2016-04-26 10:44:57

    2|3
  • UMMI KULSUM (Siswa)
    2016-04-24 10:37:02

    pengen ada pelajaran TIK tapi yahhhhh..... nasib nasib program bahasa suabuarrrrrrrrrrrr...........
  • FITRIAH NUR KAMILAH (Siswa)
    2016-04-24 10:23:32

    buat unilant semangat yah ... stuken be the winner
  • ANA MUFIDAH ZANDA (Siswa)
    2016-04-12 12:38:57

    alhamdulillah sudah bergabung,, #71
  • SHALIHIN, S.Kom. (Admin)
    2016-04-12 12:36:01

    1|2
  • ANA MUFIDAH ZANDA (Siswa)
    2016-04-12 12:33:22

    undefined
  • WIKE KRISTIAN (Siswa)
    2016-04-12 12:30:32

    ALHAMDULILLAH :D
  • UMMI KULSUM (Siswa)
    2016-04-12 12:25:21

    smanj tambah disiplin #good job
  • SOFI ZAKIYA (Siswa)
    2016-04-12 12:23:52

    alhamdulillah...sudah bisa bergabung!!!

LOCAL WISDOM, NATIONAL INTEREST, GLOBAL CHALLENGE; Trisula Membangun Nasionalisme




Bermula dari diskusi santai diruang guru, beberapa teman guru mebicarakan  arah pembinaan di SMA Nurul Jadid. Dari isi standart kurikulum nasional, muatan berbasis lokal, penyediaan “panggung” pengembangan diri (esktrakurikuler) dan mengakomodir materi Kepesantrenan, kira-kira bagaimana meramu pendidikan anak didik 3 (tiga) tahun sudah dapat memiliki kwalifikasi harapan semua pihak. Sebenarnya pada visi missi sekolah sudah bisa tergambarkan, namun bagaimana bisa menafsirkan visi dan misi yang panjang itu menjadi cukup sederhana dan bisa menjadi ediom semua warga sekolah. Dari diskusi itu munculah gagasan membuat slogan, taqline atau apapun namanya yang mewakili gambaran cita cita pesantren dan sekolah. Maka muncul dan ditetapkan slogan “Local Wisdom, National interest, Global Challenge”. Arti bebasnya; Memelihara kerifan lokal, Berjiwa Nasionalis dan Berwawasan internasional (global). Tiga rangkaian kalimat tersebut saya sebut Trisula Cita-cita, tindakan (Aplikasi) dan bahkan perjuangan (amanat) warga sekolah dalam menyiapkan kader Muslim yang memiliki basis

nilai dan tradisi kepesantrenan (keislaman), kokoh jiwa nasionalis (Ruhul Jihad) serta memiliki daya saing global. Kalimat Trisula tersebut menjadi tumpu pembinaan peserta didik, ditetapkan dengan memperhatikan aspek kesejarahan, tantangan kekinian dan misi Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Penetapan kalimat Trisula karena dilandasi Lima (panca) Kesadaran Santri Nurul Jadid (Al-Wa’iyatul khamsu) yang digariskan oleh pendiri Sekolah dan Pesantren Nurul Jadid, Allahumaghfirllah Almarhum

KH. Zaini Mun’im, yaitu; Kesadaran Beragama (al-Wa’yu al-diniy), Kesadaran Berilmu (al-Wa’yu al-ilmiy), Kesadaran Berbangsa dan Bernegara (al-Wa’yu al-Hukumi wa Sya’biy), Kesadaran Bermasyarakat (al-Wa’yu al-Ijtima’iy), serta Kesadaran Berorganisasi (al-Wa’yu al-Nidhomiy). Kalimat Trisula itu juga sebagai mengejewantahan dari maqolah yang terkenal didunia Pesantren “al-Muhafazhah ‘ala alqodimis sholih waal akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, mempertahankan hal-hal lama yang masih baik, dan menerima hal-hal baru yang lebih baik.

Gambaran kalimat Trisula tersebut dapat dijelaskan: Pertama; Local Wisdom (memelihara kearifan okal),

para ahli memaknai sebagai bentuk keyakinan, wawasan, etika yang menuntut perilaku manusia di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002), ada yang mengartikan kebenaran yang telah mentradisi dan ajeg (istiqomah) dalam satu komunitas atau daerah (Gobyah, 2009). Artinya apa yang LOCAL WISDOM,

NATIONAL INTEREST, GLOBAL CHALLENGE;Trisula Membangun Nasionalisme

menjadi cita-cita, tradisi kebanaran yang sudah diyakini, merupakan sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara.Dalam sejarahnya, sekolah ini didirikan lahir dari keprihatinan Alm. KH. Zaini Mun’im setelah melihat sikap dan laku pelajar dikota-kota besar yang tidak mencerminkan nilai akhlak dan perilaku islami. Kalau pendirian sekolah ini lahir karena keprihatinan kondisi sosial, maka sebuah kewajiban para penerus pesantren, pengurus sekolah dan guru untuk menjadikan lembaga ini sebagai “Bengkel” kehidupan generasi muda. Sebagai bengkel, maka muatan ke-Islam-an dan nilai-nilai kepesantrenan menjadi fondasi yang tidak boleh ditawar. Konsekwensinya semua warga sekolah menempatkan materi dan nilai-nilai tadi harus menjadi komitmen landasan dari ilmu pengetahuan yang lain. Dalam keseharian menjadi tangung jawab bersama mengawal dan menjadi uswah pembiasaan tutur dan laku yang baik. Tidak boleh ada pembiaran dan bersikap abai manakala melihat, guru dan murid, yang tidak mencerminkan nilai-nilai yang ada dan mentradisi. Tidak boleh ada sikap, bahwa ini tanggung jawab guru agama dan pengurus pesantren. Dalam hal penguatan karakter, memelihara nilai agama dan pesantren, menjadi tanggung jawab bersama.Berpakaian ala pesantren termasuk tradisi yang harus dipelihara. Dalam hal berpakaian; kopyah, jilbab dan berbusana rapi tidak hanya melaksanakan nilai tradisi tapi sudah menjadi simbol sekolah dan pesantren. Masih banyak yang bersikap sepele tentang busana, terutama berkopyah, karena mungkin hanya dianggap sekedar aksesoris dan membebani. Padahal didalamnya terdapat pengokohan identitas dan dorongan penguatan karakter pemakainya.Begitu pentingnya identitas karakter pesantren ini, maka kalau semua warga pesantren, guru dan murid didalamnya menyadari karakter “rumah besar” ini harus dipelihara eksistensialnya, maka kewajiban penghuninya yang harus memelihara. Warga pesantrenlah yang menjadi garda (pengawal) depan memelihara dan meyesuaikan dengan tradisi pesantren, bukan sebaliknya, jangan “memaksa” pesantren mengikuti tradisi dari luar. Sebagai bentuk menjaga dan memelihara kearifan lokal, disamping menambah materi keagamaan pada kurikulum 2013 (K-13), sekolah menetapkan standart kemampuan Furudul al-‘Ainiyah, pembiasaan baca Al-Qur’an pagi hari, sholat berjamaah, kegiatan ekstrakurikuler berupa bimbingan baca kitab kuning, jam’iyatul hadrah dan kegitan ke-Islaman lain yang bersinergi dengan kegitan pondok pesantren. Bahkan saat ini sedang dirumuskan program “Anugerah tahfidzul Qur’an”, merupakan penghargaan sekolah berupa bantuan biaya pendidikan kepada peserta didik yang mampu menghafal Al-Qur’an, nilainya disesuaikan dengan jumlah juz yang dikuasai.Pengokohan pondasi agama dan nilai-nilai kepesantrenan menjadi prinsip utama landasan Pendidkan SMA Nurul Jadid. Setiap perubahan dan pengembangan pendidikan yang menyangkut pola pikir dan prilaku baik datang dari dalam maupun dari luar harus dijaga (filter) untuk tidak mengkikis kekokohan nilai-nilai tadi. Kedua, National Interest (berjiwa nasionalis). Menurut Han Khon, nasionalisme adalah paham yang menyatakan kesetiaan tertinggi individu yang harus diserahkan kepada bangsa dan negara. Jiwa nasionalis bisa dipahami sebagai kesadaran warga negara atas kondisi bangsanya. Kesadaran inilah menjadi energi Bangsa Indonesia menyatukan sikap patriotisme semua elemen untuk menghadapi penjajah. Peristiwa Sumpah Pemuda dan Resolusi jihad (dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari dan NU) merupakan ikrar tentang eksistensi dan perwujudan jiwa nasionalisme yang tumbuh dalam perjuangan melawan kolonialisme. Dan sekarang, saat kita sedang menikmati buah kemerdekan, sikap eksistensi dan wujud nasionalisme, kita lakukan dalam bentuk apa? Dalam Panca Kesadaran Santri, salah satunya Kesadaran Berbangsa dan Bernegara (al-Wa’yu al-Hukumi wa Sya’biy). Sepertinya Almarhum KH. Zaini Mun’im memberi pesan, bahwa sikap dan jiwa nasionalisme santri Nurul Jadid harus terus berkobar pada dadanya. Kesadaran meneruskan perjuangan harus terpatri pada jiwa santri, kesadaran mengisi kemerdekaan harus menjadi ladang ibadah dan pengabdian. Almarhum berpesan; “se’engkok tak ridho mon bede santre nurul jadid tak berjuang e masyarakat”, artinya: Aku tidak ridho kalau ada santri Nurul Jadid tidak berjuang di Masyarakat, (Pesan ini diceritakan oleh Alm. H. Hafidz Thohir, alumni senior pada rapat wali santri tahun 2013), merupakan sikap marah beliau jika ada santri dan alumni yang hanya berpangku tangan di masyarakat. Artinya, pesan sikap nasionalisme engan berjuang membangun masyarakat (society building) juga merupakan misi pendidikan pesantren.Menanamkan ruh nasionalisme dan membangun kekuatan intelektual, merupakan dua pilar yang menjadi konsentrasi sekolah dalam membentuk kepribadian peserta didik yang cerdas dan terampil serta memiliki keterpanggilan memperbaiki kondisi bangsanya. Kegiatan kegiatan mengenang sejarah, baik melalui diskusi, berkesenian (teater) maupun upacara bendera yang dilakukan selama ini erupakan bentuk menanamkan ruh nasionalisme. Kegiatan tersebut sebagai bentuk penyadaran bahwa kenikmatan hidup dialam kemerdekaan ini dicapai dengan susah payah. Ada banjir darah dan air mata serta jutaan nyawa syahid sebagai mortir dalam sebuah kemerdekaan. Maka mengisi kemerdekan dengan belajar yang keras dan mengabdi untuk Bangsa merupakan tanggung jawab generasi sekarang. Menyediakan fasilitas sekolah yang lengkap, memberi ruang cukup untuk pengembangan bakat dan minat serta ketersedian guru profesional dan trampil, merupakan langkah sekolah ini dalam menyiapkan para kader bangsa multitalent yang memiliki kekokohan National Interest (berjiwa Nasionalis). Ketiga, Global Challenge (Berwawasan Global); Globalisasi adalah proses pergaulan masyarakat dunia yang terbuka dengan tidak dibatasi oleh batas batas wilayah dan negara. Hal ini akibat perkembangan

Teknologi informasi komunikasi yang cukup cepat dan pesat. Anthony Giddens mendifinisikan globalisasi merupakan intensifikasi hubungan sosial secara mendunia yang menghubungkan kejadian dilokasi satu dengan yang lainnya dan menyebabkan perubahan pada keduanya. Globalisasi bagaikan pisau bermata dua, satu sisi perkembangan tekhnologi informasi yang sangat cepat merupakan keniscayaan untuk mengikuti perkembangan dunia. Sisi lain berdampak pada runtuhnya budaya dan bergesernya peradaban bangsa akibat terbukanya arus informasi dan komunikasi lintas merupakan

tantangan yang harus dihadapi. Pendidikan juga harus berorientasi penyiapan peserta didik dalam menghadapi tantangan dunia. Apalagi tahun depan rakyat Indonesia akan menghadapi ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sebuah intregrasi ekonomi dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. Dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat selama pemberlakuan MEA, Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia yang terampil,

Cerdas dan kompetitif.Global Challenge merupakan gagasan untuk membuka wawasan tentang pentingnya warga sekolah, terutama peserta didik, untuk tidak hanya menjadi penonton pergerakan dunia, tapi juga bisa menjadi pemain dalam gelanggang arus globalisasi, termasuk mengantisipasi dampak negatifnya. Penguasaan bahasa internasional merupakan pintu masuk membuka wawasan dalam pergaulan dunia. Pemberian materi bahasa asing sudah bukan lagi sekedar pemenuhan target kurikulum, tapi juga digiring pada pengenalan tatanan hidup antar dunia. Metode pembelajaran harus lebih banyak menekankan aspek ketrampilan berkomunikasi, termasuk dengan banyak memberi kesempatan pada peserta didik melakukan interaksi langsung dengan orang asing, sehingga logat dan intonasi dapat ditiru sesuai dengan asal bahasa asingnya. Upaya sekolah mendatangkan guru asing, baik sebagai pengajar maupun sebagai pemateri diskusi merupakan upaya pemberian pengalaman bergaul

dan berkomunikasi seperti yang diharapkan tadi, miskipun bugetyang ditanggung sekolah cukup besar.

Di SMA Nurul Jadid sejak tahun 2003 menambah materi bahasa Mandarin melengkapi materi bahasa

asing yang sudah ada. Ini sebuah langkah cerdas, unik dan antisipatif dalam memasuki pergaulan masyarakat Internasional. Respon dan perkembangannya juga luar biasa, lembaga-lembaga pendidikan Bahasa Mandarin dan komunitas orang Tionghoa sangat mendukung.

Setidaknya saat ini sekolah sudah memiliki mitra dengan Konsulat Jendral (Konjen) Cina, Lembaga Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (LKPBT) Jawa Timur, SIIBT (lembaga milik Dahlan Iskan, Jawa Pos group), Universitas Negeri Malang (UM), Machung University Malang dan Sekolah sekolah milik komunitas Tionghoa (Surabaya, Lumajang, Jember dan Banyuwangi).Sebagai bentuk apresiasi semua pihak, sekolah mendapat tawaran beasiswa dari Pahoa College Indonesia di Serpong Tanggerang, berupa kuliah tiga tahun di Indonesia dan satu tahun kuliah di Hebei Normal University, Cina. Apresiasi lain berupa pemberian paket perpustakaan Mandarin senilai 100 (seratus) juta dari Konsulat Jenderal Negara Cina. SMA Nurul Jadid juga menjadi Mandarin Teaching Base (Pusat pembelajaran) atas permintaan beberapa lembaga pendidikan, yaitu Pondok Pesantren Bata-bata Madura, SMAN Paiton, SMAN Gending dan MAN Pajarakan Probolinggo.Langkah tadi merupakan gambaran sekolah membuka jendela internasional kepada warga sekolah, terutama peserta didik, dalam membiasakan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan global.
Ketika kemajuan teknologi informasi terus berputar begitu cepat, maka jarak antar dunia semakin sempit dan sangat dekat, maka mepersiapkan anak didik berwawasan global merupakan keniscayaan.Tiga konsentrasi pembinaan tadi “Local Wisdom, National Interest, Global Challenge” merupakan kesatuan yang dimiliki warga sekolah dan saling menguatkan.

Kemampuan beradaptasi dengan masyarakat dunia (Global Challenge), serta kecerdasan dalam ilmu

pengetahuan sebagai wujud keterpangilan membangun bangsanya (National Interest), harus dilandasi dengan pondasi moral agama yang kokoh (Local Wisdom). Membangun karakter dengan tiga konsentrasi tersebut merupakan membangun sikap nasionalisme yang diharapkan pendiri dan cita-cita Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tiga konsentrasi tersebut merupakan membangun mentalitas peserta didik dalam mengisi kemerdekan Indonesia. Tiga konsentrasi tersebut menjadi cita-cita, aplikasi, dan amanah kita. Dan tiga konsentrasi itu adalah trisula membangun Nasionalisme. •*) Penulis adalah Kepala Sekolah SMA Nurul Jadid

Paiton - Probolinggo




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : nhhbjjCycle -  [nszvyrxpmf@emmails.info]  Tanggal : 01/09/2017
payday loans houston <a href="http://cashadvances2017.com"> payday loans direct lender</a> &lt;a href=&quot;http://cashadvances2017.com&quot;&gt; payday loans direct lender&lt;/a&gt; <a href=http://cashadvances2017.com>online payday loan</a> payday loan lenders

Pengirim : Philipvup -  [jackyapril@gmail.com]  Tanggal : 10/04/2017
http://stemmeries.xyz <a href="http://stemmeries.xyz">norsk kasino</a> http://stemmeries.xyz - norsk kasino


   Kembali ke Atas